Laman

Minggu, 20 November 2011


RENUNGAN MUHARRAM

Tidak terasa waktu terus bergulir, tanpa ada yang bisa menghentikan. Dan Allah bersumpah, "Demi waktu ....," dalam surat Al 'Ashr. Itu berarti waktu amat penting dan harus diperhatikan oleh manusia. Jika tak ada waktu, tidak akan ada perjalanan umur manusia. Tidak memperhatikan waktu dan umur, akan membuat kehidupan sia-sia. Pada ayat selanjutnya Allah mengingatkan, "Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran".

Tahun baru hijriyah sudah di depan mata, baru saja kita memasuki awal bulan Muharram. Apa yang akan diperbuat manusia di tahun depan untuk masa depannya, untuk masa depan bangsa, untuk masa depan Islam?. Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk sosial yang selalu berhadapan dengan berbagai persoalan, masalah dan problematika hidup dan kehidupan; pribadi, keluarga, maupun masyarakat dan bangsa, dengan keadaan masalah yang bervariasi. Namun diantara makhluk yang diciptakan Allah, manusia adalah makhluk yang paling potensial, dengan segala kelebihannya. Dengan modal itu manusia bisa mengatasi problematika hidupnya. Tidak mungkin Allah SWT memberi sesuatu beban atau masalah pada hambaNya tapi tidak kuat memikulnya.

Hijrah–secara harfiah berarti berpindah, meninggalkan, berpaling, dan tidak memperdulikan lagi–mempunyai beberapa pengertian. Namun yang lebih penting adalah apa yang berhijrah. Hijrah batiniah atau artinya secara maknawi/filosofis, dimana seorang berpindah dari salah menuju benar lillah, dengan niat yang benar, ikhlas dan aqidah yang lurus. Hijrah dzhahiriah atau dalam artian makani/tempat (fisik), dimana konsep hijrah adalah berpindahnya Nabi Muhammad saw dari Mekah ke Madinah pada 622 M, dalam bentuk perbuatan yang nyata. Sangat perlu apabila makna hijrah tersebut dilihat secara filosofis, sehingga bermakna bagi kehidupan bangsa ini.

Dalam hal apa saja seorang mukmin itu berhijrah? Tentu dalam segala aspek kehidupannya, menuju pada nilai-nilai dan ruh yang selalu menjiwai setiap gerak dan langkah seorang Muslim dari aqidah, syari'ah, akhlaq, sampai kepada adat (kebiasaan). Semua menuju kehidupan yang lebih manusiawi sesuai dengan fitrahnya, sesuai yang telah tersurat dan tersirat dalam Al Qur'an dan Sunnah Nabawiyah. Darimana dimulai? dari diri sendiri, dari dalam diri. Selanjutnya, dari keluarga, kemudian dari masyarakat. Untuk bisa mengukur diri, mengukur kemampuan, sampai seberapa wujud manusiawi kita di hadapan Allah dan di hadapan manusia.

Hijrah dan tahun Hijriyah adalah tonggak kemerdekaan, kemenangan identitas diri dalam; aqidah (keyakinan), sibghoh (celupan), amaliyah (perbuatan), harakiyah (gerakan) "lanaa al maulaa walaa maulaa lahum". Untuk menjalankan "keislaman" tidak perlu melewati toleransi terhadap kemungkaran atau kemaksiatan. Sebagai contoh, Nabi Muhammad saw tidak kafir dan musyrik, dan maksiat lebih dulu, karena ada tuntutan-tuntutan sosial; tidak inulisasi dulu!!!. Jadi tidak karena; keturunan, kekayaan, kejayaan, dan sebagainya yang bersifat keduniaan, lantas mengorbankan harga diri, identitas sebagai seorang Muslim.

Islam dan umat Islam saat ini dikelilingi lingkungan kurungan yang kotor, jauh dari kemanusiaan; Money, monkey, donkey dan bangkai politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, hukum.

Perang peradaban berjalan terus sejak zaman Nabi Adam sampai zaman Saddam, dan seterusnya (kata pelawak). Konspirasi Internasional membina bakat dan minat tanpa value (nilai).

Kader umat perlu dibina agar mengkondisikan diri, bukan menyesuaikan diri. PENJAJAHAN versus KEMERDEKAAN. Dilengkapi dengan kemampuan menejerial untuk memberdayakan dan mengoptimalkan; sumber daya manusia, sumber daya alam, qolbu, waktu, sosial/kemasyarakatan, ekonomi, organisasi, opini dan lain-lain termasuk di dalamnya manajemen informasi.

Perjalanan panjang kehidupan manusia–dari Nabi Adam as dan Siti Hawa, Qabil dan Habil dengan kasus-kasus yang terjadi, Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi Isa as dengan masalah-masalah yang timbul hingga Nabi Muhammad saw adalah proses menuju tatanan dunia baru, kehidupan yang berkemanusiaan dan fitrah yang sempurna.

Jadi hijrah bukan hanya perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, juga bukan dari satu sistem ke sistem lain, tapi totalitas HIJRAH dari tanpa bernilai moral kemanusiaan ke tatanan yang bernilai moral kemanusiaan yang sempurna–itulah fitrah. Dari ketergantungan pada sistem penjajah menuju kemerdekaan dan pengusiran segala macam penjajahan (kolonialisme dan neo kolonialisme).

Semua kerusakan di dunia ini akibat dari penyelewengan manusia dari kemanusiaan yang sempurna–fitrah. Bani Israil/Yahudi itu PR kemanusiaan, sampai hari kiamat.

Macam-macam tujuan perubahan, perbaikan dan perpindahan manusia dalam hidupnya antara lain untuk:

  1. Memperbaiki diri, menjadi baik.
  2. Memperbaiki/perbaikan orang lain dan lingkungan.
  3. Kepentingan relatif.
Positif: kebajikan, pengabdian "lillah".
Negatif: hawa nafsu, harta–tahta–wanita, keduniaan "LIDDUNYA"

Catatan diambil melalui pidato KH. Hasan Abdullah Sahal Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Indonesia pada tanggal 5 Maret 2003. Semoga bermanfaat.
SEKOLAH INSAN BESTARI

Berikut ini adalah video beberapa aktivitas yang ada di Sekolah Insan Bestari, tempat kami belajar untuk mendidik anak-anak.

Selasa, 15 November 2011

صلاة التراويح وصلاة الوتر

صلاة التراويح وصلاة الوتر

‌أ. صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ لِثَمَانِي رَكَعَاتٍ

قراءة البلال والجماعة قبل الركعة الأولى والثانية في صلاة التراويح

الْبِلاَلُ : صَلُّوْا سُنَّةََ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

الْجَمَاعَةُ : الصَّلاَةُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَافِعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

1. من السور التي تقرأ في الركعة الأولى بعد الفاتحة هي التكاثر:

أَلْهكُمُ التَّكَاثُرُ(1)حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ(2)كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ(3)ثُمَّ كََلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ(4)كَلاَّ لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِ(5)لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ(6)ثُمَّ لَتَرَوُنَّهاَ عَيْنَ الْيَقِيْنِ(7)ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ(8)

2. من السور التي تقرأ في الركعة الثانية بعد الفاتحة هي العصر:

وَالعَصْرِ(1)إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)


قراءة البلال والجماعة قبل الركعة الثالثة والرابعة في صلاة التراويح

الْبِلاَلُ : فَضْلاً مِنَ اللهِ وَمَغْفِرَةً وَنِعْمَةً

الْجَمَاعَةُ : وَمَغْفِرَةً وَنِعْمَةً

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ وَحَبِيْبِناَ وَشَافِعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

3. من السور التي تقرأ في الركعة الثالثة بعد الفاتحة هي الهمزة:

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ(1)الَّذِي جَمَعَ مالاً وَعَدَّدَهُ(2)يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ(3)كَلاَّ لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ(4)وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ(5)نَارُ اللهِ الْمُوْقَدَةُ(6)الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الأَفْئِدَةِ(7)إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ(8)فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ(9)

4. من السور التي تقرأ في الركعة الرابعة بعد الفاتحة هي الفيل:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيْلِ(1)أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيْلٍ(2)وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيْلَ(3)تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيْلٍ(4)فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُوْلٍ(5)

ثم يقرأ الإمام الدعاء بعد الركعة الرابعة

اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ اللّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ يَا مُجِيْرُ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

قراءة البلال والجماعة قبل الركعة الخامسة والسادسة في صلاة التراويح

الْبِلاَلُ : فَضْلاً مِنَ اللهِ وَمَغْفِرَةً وَنِعْمَةً

الْجَمَاعَةُ : وَمَغْفِرَةً وَنِعْمَةً

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ وَحَبِيْبِناَ وَشَافِعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

5. من السور التي تقرأ في الركعة الخامسة بعد الفاتحة هي قريش:

لإِيْلاَفِ قُرَيْشٍ(1)إِيْلاَفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ(2)فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هذَا البَيْتِ(3)الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوْعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ(4)

6. من السور التي تقرأ في الركعة السادسة بعد الفاتحة هي الماعون:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِاالدِّيْنِ(1)فَذلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيْمَ(2)وَلاَ يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ(4)الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاََتِهِمْ سَاهُوْنَ(5) الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآؤُوْنَ(6)وَيَمْنَعُوْنَ المَاعُوْنَ(7)

قراءة البلال والجماعة قبل الركعة السابعة والثامنة في صلاة التراويح

الْبِلاَلُ : فَضْلاً مِنَ اللهِ وَمَغْفِرَةً وَنِعْمَةً

الْجَمَاعَةُ : وَمَغْفِرَةً وَنِعْمَةً

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ وَحَبِيْبِناَ وَشَافِعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

7. من السور التي تقرأ في الركعة السابعة بعد الفاتحة هي الكوثر:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ(1)فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ(2)إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ(3)

8. من السور التي تقرأ في الركعة الثامنة بعد الفاتحة هي الكافرون:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ(1)لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ(2)وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُوْن مَا أَعْبُدْ(3)وَلاَ أَنَا عَابِدٌ مَاعَبَدْتُمْ(4)وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُوْنَ مَا أَعْبُدُ(5)لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ(6)

‌أ. بعد السلام من الركعة الثامنة قراءة التسبيح

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْمَعْبُوْدِ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْمَلَكُوْتِ، سُبْحَانَ ذِي العِزَّةِ وَالْعَظَمَةِ وَالْقُدْرَةِ وَالْهَيْبَةِ وَالسُّلْطَانِ وَالْجَلاَلِ وَالْكَمَالِ وَالضِّيَاءِ وَالآلاَءِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْجَبَرُوْتِ. سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِي لاَ يَنَامُ وَلاَ يَمُوْتُ وَلاَ يَفُوْتُ هُوَ أَبَداً. سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

ثم يقرأ الإمام الدعاء بعد صلاة التراويح

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا بِالإِيْمَانِ كَامِلِيْنِ وَلِفَرَائِضِكَ مُؤَدِّيْنَ وَعَلَى الصَّلَوَاتِ مُحَافِظِيْنَ وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ ولِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ وَفِي الآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ وَبِالْقََضَاءِ رَاضِيْنَ وَبِالنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ وَفِى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ وَعَلَى سَرِيْرَةِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ وَبِحُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ وَمِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّيْنِ شَارِبِيْنَ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْنٍ وَاحْشَرْنَا وَإيَّاهُمْ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًَا ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اللّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ الأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِِهِ وَسَلَّمَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ.

‌ب. صَلاَةُ الْوِتْرِ

قراءة البلال والجماعة قبل الركعة الأولى والثانية في صلاة الوتر

الْبِلاَلُ : صَلُّوْا سُنَّةًَ مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

الْجَمَاعَةُ : الصَّلاَةُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَافِعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

1. من السور التي تقرأ في الركعة الأولى بعد الفاتحة هي الأعلى:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى(1)الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى(2)وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى(3)وَالَّذِي أَخْرَجَ المَرْعَى(4)فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى(5)سَنُقْرِئُكَ فَلاَ تَنْسَى(6)إِلاَّ مَاشَاءَ اللهُ إنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى(7)وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى(8)فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى(9)سَيذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى(10)وَيَتَجَنَّبُهَا الأَشْقَى(11)الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى(12)ثُمَّ لاَيَمُوْتُ فِيْهَا وَلاَ يَحْيَى(13)قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى(14)وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى(15)بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا(16)وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى(17)إِنَّ هذَا لَفِي الصُّحُفِ الأُوْلَى(18)صُحُفِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى(19)

2. من السور التي تقرأ في الركعة الثانية بعد الفاتحة هي الغاشية:

هَلْ أَتَاكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِ(1)وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ(2)عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ(3)تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً(4)تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ(5)لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلاَّ مِنْ ضَرِيْعٍ(6)لاَ يُسْمِنُ وَلاَ يُغْنِي مِنْ جُوْعٍ(7)وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌ(8)لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ(9)فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ(10)لاَ تَسْمَعُ فِيْهَا لاَغِيَةً(11)فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ(12)فِيْهَا سُرُرٌ مَرْفُوْعَةٌ(13)وَأَكْوَابٌ مَوْضُوْعَةٌ(14)وَنَمَارِقُ مَصْفُوْفَةٌ(15)وَزَرَابِيُّ مَبْثُوْثَةٌ(16)أَفَلاَ يَنْظُرُوْنَ إِلَى الإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ(17)وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ(18)وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ(19)وَإِلَى الأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ(20)فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ(21)لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ(22)إِلاَّ مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ(23)فَيُعَذِّبُهُ اللهُ الْعَذَابَ الأَكْبَرَ(24)إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ(25)ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ(26)

قراءة البلال والجماعة قبل الركعة الثالثة في صلاة الوتر

الْبِلاَلُ : صَلُّوْا سُنَّةًَ مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَةً جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

الْجَمَاعَةُ : الصَّلاَةُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

الْبِلاَلُ : اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَافِعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ

الْجَمَاعَةُ : اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

3. السور التي تقرأ في الركعة الثالثة بعد الفاتحة هي:

الإخلاص: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ(1)اللهُ الصَّمَدُ(2)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ(3)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ(4)

الفلق: قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ(1)مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ(2)وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍِ إِذَا وَقَبَ(3)وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ(4)وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ(5)

الناس: قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ(1)مَلِكِ النَّاسِ(2)إِلهِ النَّاسِ(3)مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ(4)الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ(5)مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ(6)

وبعد السلام قراءة الأدعية، فها هي ذه كيفية صلاة التراويح لثماني ركعات.

Senin, 14 November 2011

PIDATO KH. HASAN ABDULLAH SAHAL


PIDATO K.H. HASAN ABDULLAH SAHAL

18 April 2011

(Pidato ini disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal pada malam serah terima amanat Koordinator Gerakan Pramuka. Saya rekam dan saya tulis ulang, karena saya anggap menarik, sangat menarik, maka saya sampaikan kepada teman-teman, semoga ada manfaatnya). Baca yang pelan, ikuti gaya bicara Ust Hasan ketika beliau berpidato, terasa enak dibaca. Hehehe...

Manusia ingat akhirat lupa dunia adalah sumber bencana, manusia berusaha tanpa berdoa adalah bencana, manusia berdoa tanpa berusaha adalah bencana. Yang di atas tidak merasa kalau di atas, tidak mau bertanggungjawab atas amanatnya. Yang di bawah juga tidak mau tahu kapan taat dan kapan tidak taat. Disinilah sumber bencana “Karena adanya kekosongan, al ajwaf-jawfa’, keropos, memikirkan materi ndak memikirkan moral, orang memikirkan moral tidak memikirkan materi, akhirnya kekosongan”. Alam rusak karena manusia, manusia tidak menempatkan dirinya sebagai makhluk yang akan memimpin alam. Nabi kita, Nabi kita itu rahmatan lil’alamin, wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin, wa nunazzilu minal Qur’ani maa huwa syifaa’un wa rahmatun. Rahmah, untuk supaya kerahmatanlil’alaminnya Nabi kita Muhammad, untuk menjadi fungsinya al Qur’an sebagai syifa’ dan rahmah perlu hidayah, dan Islam itu lah yang namanya hidayah.

Bagaimana alam di sekitar ini tetap abadi, tetap terjaga, tetap bermanfaat?. Semua itu untuk manusia, di dalam beribadah kepada Allah, “Lakum”. Di dalam al Qur’an itu “khalaqo lakum maa fissamaawaati wal ardh” “ja’ala lakumul ardho”, lakum, “alladzii ja’ala lakumul ardho firoosyan wassamaa_a binaa_an”, lakum. Kamu kalau bertanya “hai kebo, hai wedus, hai kadal, kodok, kamu diciptakan untuk apa?”. Mereka akan menjawab “untukmu wahai manusia”. Bertanya kepada nyamuk “Kamu nyamuk diciptakan di dunia untuk apa?”. Mereka akan menjawab“untukmu manusia”. Apalagi tumbuh-tumbuhan, untukmu. Tetapi manusia diciptakan “liya’buduni” untuk menyembah Allah.

Sumber bencana karena apa? “Karena meninggalkan fungsi”. Jadi, mengapa terjadi bencana disana-sini? “Karena adanya kehilangan atau perpindahan atau kerusakan fungsi”. Manusia cape’ jadi manusia, binatang pengen jadi manusia juga nggak bisa, laki-laki bosan jadi laki-laki, perempuan juga bosan jadi perempuan, payah. Monyet-monyet itu sekarang itu pada protes, karena apa? Karena manusia ganti nama, kalau jadi pacaran mereka cinta monyet. Marah mereka, mbok cinta manusia kenapa cintanya koq cinta monyet?.

Kebo itu juga marah, hehehe, teruskan sendiri. Mereka pengen ganti nama, karena apa? Karena namanya sudah dikorup oleh manusia, dicopet oleh manusia, kenapa nama saya dipake? Mbok cintanya “cinta kirik (anak anjing)” gitu, koq nama saya yang dipake?. Kebo, kerbau juga marah, itu di atap kita ada cicak, mbok namanya “kumpul cicak” kenapa nggak itu?, kumpul tanpa akad nikah itu. Marah, kecewa mereka.

Laki-laki bosan jadi laki-laki, pakai giwang, pakai anting-anting, pakai kalung, tinggal kasih lonceng aja itu. Perempuan capeee’ jadi perempuan, pengen jadi laki-laki. Cape’ bosan jadi peremapuan, ulah tingkahnya itu, hehehe, teruskan sendiri. Gajah cape, di Lampung itu gajah pakai jilbab, warnanya hijau, dihiasi, di atasnya itu ada makhluk ndak pakai baju, yang tertutup auratnya hanya tinggal seperempat atau sepersepuluh dari badannya. Bingung, ini manusianya mana binatangnya mana? Itu di Lampung, manusia cape berpakaian. Betul? Ya Allah...

Sumber bencana, la hawla wa la quwwata illa billah. Kita yang bertanggungjawab mengembalikan manusia kepada kemanusiaan yang sempurna. Kamu jadi santri harus bisa macam-macam termasuk pramuka, renang dan lain-lain. Kamu kalau ada berada di sungai di danau, naik sampan, meskipun kamu pinter bahasa arab, pinter bahasa inggris, matematika 9, fisikanya 9, tapi nggak bisa berenang, kalau terguling apa yang terjadi? Hah? Bahasa arabmu itu ghoiru musta’mal ketika itu. “SOMBONGNYA MANUSIA KARENA BISANYA, LUPA BERAPA YANG TIDAK DIBISAI”. Itulah makanya, disinilah banyak kekosongan akhirnya banyak tidak beres, sumber bencana.

Kita jangan menyalahkan orang lain. Yang harus disalahkan adalah diri kita sendiri. Sekarang di Indonesia, terjadi bencana. Dulu waktu Tsunami di Aceh, apa komentar orang? “itu gara-gara Aceh banyak maksiat, karena disana banyak bid’ah, banyak khurofat, atau mau keluar dari Indonesia, akhirnya diterjang oleh Tsunami”, yang ngomong itu kira-kira orang Jawa itu. Habis itu ganti Jawa Barat kena Tsunami, banjir lagi. Apa kata orang Jawa Tengah? “ooo, itu gara-gara banyak maksiat, disitu banyak molimo, disitu banyak syirik, banyak orang yang berbuat maksiat, makanya dapat adzab dari Allah”, seakan-akan dia orang yang sholeh. Habis itu kena lagi, ganti Jogja yang kena gempa, apa kata orang lain? “wah itu gara-gara banyak syirik, disana banyak bid’ah, banyak orang yang maksiat, banyak orang yang kumpul kebo, pasti itu dapat adzab dari Allah”, yang ngomong itu seakan-akan orang sholeh. Jalan lagi, Jawa Timur lumpur Lapindo. Apa katanya? “gara-gara maksiat”. Seakan-akan orang hanya tinggal menyalahkan orang lain, seakan-akan dirinya yang paling sholeh. Ini termasuk sumber bencana. Apa sumber bencana? “Karena merasa dirinya itu sholeh, seakan-akan dirinya itu paling takut, kemudian menyalahkan orang lain”.

Celakanya, waktu ada Tsunami itu ada selebriti atau artis yang ngomong “Ini peringatan dari tuhan supaya orang-orang jangan sombong, yang sombong itu adalah orang yang suka mengkritik artis-artis”. Padahal Ulama’ kemarin mengatakan “Kita mendapat bencana karena banyak zina, banyak maksiat, banyak mengumbar aurat, banyak hubungan yang tidak beres, dan sebagainya dan sebagainya”, yang dimaksudkan adalah kaum artis. Besok pagi baru artis ada yang ngomong, “gara-gara maksiat”, apa maksiatnya? “Itu lho orang-orang yang menjelek-jelekkan artis”. Ini yang menjadi sumber bencana “Menyalahkan orang lain, membela diri tidak pada tempatnya”.

Maka, “MARI KITA ISI HIDUP INI DENGAN YANG BERMANFAAT, JADILAH MANUSIA YANG BERMANFAAT, JANGAN HANYA PANDAI MEMANFAATKAN DAN JANGAN SAMPAI HANYA DIMANFAATKAN”.

Pesan saya kepada kalian, sama halnya saya berpesan kepada anak kandung saya sendiri meskipun bukan saya yang mengandung, “JANGAN SAMPAI KAMU TIDAK MEMPUNYAI KEUNGGULAN YANG DIANDALKAN”. Keunggulan yang baik-baik, bukan seperti: keunggulan saya adalah ngebut di jalanan, nongkrong di tepi jalan, dan sebagainya diteruskan sendirilah. “BERSYUKURLAH KAMU MENJADI SANTRI”.

Semoga ini bermanfaat bagi kita semua. Kyai-kyai kita, guru-guru kita selalu mengharapkan dan mendoakan kita menjadi orang yang alim dan sholeh, mempunyai peradaban sendiri, merubah keadaan yang kacau ini menjadi baik. Dalam bahasa Ustadz Syukri “Kita punya peradaban sendiri, kita ini perang peradaban dengan orang luar (non muslim), maka pandai-pandailah kamu mempantas-pantaskan dirimu sebagai santri, sebagai ustadz, sebagai alumni Gontor. Pantas pola fikirnya, sikapnya dan tingkah lakunya”.